Pengertian dan Cara Memiliki Gelar Spesialis Penyakit dalam (Hematologi dan Onkologi Medik)

Dalam pendidikan kedokteran, spesialis penyakit dalam )internis) merupakan salah satu spesialis yang populer terutama di Indonesia. Masyarakat yang berobat lebih banyak memiliki keluhan di bagian perut atau dada sehingga internis adalah spesialis yang harus dituju. Di dalam perut sendiri ada banyak organ penting seperti organ pencernaan, hati, kandung kemih, darah, hingga jantung. Karenanya, spesialisasi ini masih terbagi lagi menjadi beberapa subspesialis salah satunya adalah spesialis penyakit dalam (hematologi dan onkologi medik) yang menangani berbagai penyakit darah terutama yang berhubungan dengan kanker.

Sebenarnya hematologi dan onkologi medik tidak saling berkaitan dalam bidang spesialisasinya namun bisa bekerja sama untuk menangani kasus tertentu. Subspesialis hematologi menangani penyakit yang berhubungan dengan darah baik yang disebabkan sel kanker ataupun tidak. sedangkan onkologi berhubungan dengan tindakan pencegahan atau penanganan sel kanker baik yang berada di dalam sel darah ataupun organ lainnya. keduanya bisa saling bekerja sama jika menangani pasien dengan gejala kanker darah, ataupun bekerja sama dengan subspesialis lainnya untuk penyakit yang lain.

Bagi Anda yang penasaran tentang spesialisasi ini, apalagi jika putra-putrinya memiliki cita-cita sebagai dokter, berikut ini adalah proses yang harus diselesaikan agar seseorang memiliki gelar dokter spesialis penyakit dalam (hematologi dan onkologi medik):

1. Sarjana kedokteran.
Untuk menjadi dokter spesialis apapun Anda terlebih dahulu harus lulus sarjana kedokteran atau S.ked. Studi ini memiliki beban studi 144 sks dan bisa ditempuh antara 3,5 tahun hingga 7 tahun sesuai dengan kemampuan anak. setelah lulus mereka akan memiliki gelar S.ked namun belum bisa membuka praktek sebagai seorang dokter. Namun Anda di tahap ini sudah bisa bekerja di belakang meja tanpa menangani pasien seperti di pabrik obat, rumah sakit sebagai tenaga non medis dan sebagainya.

2. Pendidikan profesi dokter.
Agar Anda bisa bertindak sebagai dokter yang menangani pasien, maka Anda perlu meneruskan studi untuk mengambil gelar profesi dokter. Studi ini akan mengharuskan Anda untuk menjadi co Asistent dokter selama 3 semester. Di saat ini, seorang co ass akan dididik secara praktek di berbagai spesialis dengan mengikuti dan mengasisteni dokter spesialis yang bertugas. Setelah lulus sebagai co Ass barulah mereka mendapatkan gelar dr atau dokter. Namun untuk bisa bekerja dengan leluasa, Anda masih harus ikut Uji Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI) yang diselenggarakan oleh IDI. Setelah mendapatkan sertifikat UKDI, dokter harus mengikuti masa internship selama satu tahun untuk mematangkan pengalaman. Setelah masa internship, barulah Anda bisa mendirikan praktek dokter umum dan menarik biaya konsultasi dari pasien.

3. Spesialis.
Bagi yang ingin mendapatkan spesialis hematologi, maka harus melanjutkan pendidikan pascasarjana kedokteran atau spesialis dengan memilih spesialis penyakit dalam. Masa pendidikan ini sekitar 4 tahun di universitas yang bekerja sama dengan rumah sakit pendidikan.

4. Sub spesialis atau konsultan.
Setelah lulus spesialis penyakit dalam, dilanjutkan dengan mengambil sub spesialis Hematologi dan Onkologi Medik yang membutuhkan waktu sekitar 4 semester. Ciri mereka yang telah lulus jenjang konsultan ini adalah memiliki gelar K di belakang gelar spesialisnya seperti Sp. PD-KHOM atau Spesialis Penyakit Dalam – Konsultan Hematologi dan Onkologi Medik.

Perjalanan yang cukup panjang dan berliku untuk menjadi seorang konsultan dunia kedokteran. Namun tentu saja semua itu akan sepadan saat Anda bisa membantu menyembuhkan berbagai jenis penyakit dengan ilmu dari spesialis penyakit dalam (hematologi dan onkologi medik) yang sudah dipelajari.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *